Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh: Dr. Marzuki dkk.

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian riset dan pengembangan (Research and Deveopment atau sering disingkat R&D). Penelitian ini dirancang untuk tiga tahap. Tahap pertama dilakukan di tahun pertama (2009), tahap kedua dilakukan di tahun kedua (2010), dan tahap ketiga dilakukan di tahun ketiga (2011). Pada tahap pertama penelitian ini berupa penelitian survey yang bersifat eksploratif untuk menemukan model-model pengembangan kultur akhlak mulia yang dikembangkan di beberapa sekolah di Indonesia, khususnya di sekolah dasar dan menengah. Sekolah-sekolah yang dijadikan objek penelitian adalah sekolah-sekolah di Pulau Jawa. Peneliti mengambil sampel sekolah-sekolah di DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, angket, dokumentasi, serta FGD. Data yang ditemukan kemudian dianalisis sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dengan pendekatan induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada variasi model pembentukan kultur akhlak mulia bagi siswa di sekolah-sekolah di Indonesia. Dari delapan sekolah yang menjadi sampel penelitian ini terlihat jelas variasi tersebut. Namun demikian jika dicermati ternyata ada kesamaan umum dari semua sekolah sampel yang diteliti, yakni menjadikan visi, misi, atau tujuan sekolah sebagai dasar pijakan untuk membangun kultur akhlak mulia di sekolah. Terwujudnya visi, misi, dan tujuan sekolah ini perlu didukung dengan program-program sekolah yang tegas dan rinci yang mengarah pada terwujudnya kultur akhlak mulia di sekolah. Program-program ini akan berjalan dengan baik jika mendapatkan dukungan yang positif dari semua pihak yang terkait. Model ideal yang sebaiknya dikembangkan dalam pembentukan kultur akhlak mulia di sekolah di Indonesia baik di sekolah dasar maupun menengah adalah: sekolah sebaiknya merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah yang mengarah pada pembentukan kultur akhlak mulia di sekolah, ada dukungan berupa persepsi yang sama di antara civitas sekolah, ada kesadaran yang tinggi bagi seluruh civitas sekolah, ada kebijakan yang tegas dari kepala sekolah, ada program-program dan tata tertib sekolah yang jelas dan tegas, ada pembiasaan nilai-nilai akhlak mulia dalam aktivitas sehari-hari di sekolah baik yang bersifat keagamaan maupun yang umum, ada dukungan dari semua pihak yang terkait dalam mewujudkan kultur akhlak mulia di sekolah, ada keteladanan dari para guru dan karyawan, ada sinergi antara tiga pusat pendidikan, ada reward dan punishment, dibutuhkan waktu yang lama dan dilakukan secara berkelanjutan, serta melibatkan semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Kata Kunci: Membangun kultur, akhlak mulia, siswa, pendidikan, dan Indonesia. Lanjut Baca »

Oleh: Marzuki

Abstrak

Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran wacana kekerasan gender dalam Islam, faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia, dan upaya-upaya apakah yang dilakukan untuk mengatasi wacana kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mencari jawaban atas ketiga masalah tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian analisis isi (content analysis). Yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini adalah isi dari kitab-kitab fikih yang menunjukkan adanya kekerasan gender, khususnya sebuah kitab yang berjudul ‘Uqud al-Lujjain fi Bayani Huquq al-Zaujain karya Muhammad bin ‘Umar Nawawi al-Banteni yang sering dinamai Imam Nawawi. Sebagian dari isi kitab ini, yakni yang terkait dengan relasi gender, dikaji dengan menggunakan perspektif kesetaraan dan keadilan gender dalam Islam seperti yang ditunjukkan oleh al-Quran. Dalam melakukan analisis, peneliti mendasarkan pada berbagai pendapat para ulama, terutama para feminis Muslim, melalui karya-karya mereka. Dengan berbagai pendapat yang ada akan dicoba dicari kesatuan pemahaman yang mengarah kepada keadilan dan kesetaraan gender sebagaimana prinsip-prinsip Islam yang sebenarnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gambaran kekerasan gender terjadi hampir di semua tempat dan negara di belahan bumi ini, termasuk di Indonesia, dalam kurun waktu yang cukup lama. Kekerasan gender di kalangan masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh beredarnya kitab-kitab fikih yang menunjukkan bias gender (ketimpangan gender) yang berpengaruh pada pola pikir dan perilaku keagamaan masyarakat Muslim. Di antara faktor penyebab terjadinya kekerasan gender di kalangan umat Islam, khususnya di Indonesia, adalah adanya pengaruh yang begitu kuat dari hasil penafsiran yang dilakukan oleh para ulama Islam yang bercirikan penafsiran yang parsial, tidak komprehensif, literal (tekstual), tidak kontekstual, dan banyak dipengaruhi oleh budaya lokal. Akibatnya, hasil pemahamannya kurang sejalan dengan prinsip-prinsip al-Quran yang sangat menekankan persamaan, kesetaraan, keadilan, dan kebebasan. Adapun upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi kekerasan gender akibat beredarnya kitab-kitab fikih yang bias gender itu adalah melakukan rekonstruksi dan reformulasi terhadap pemahaman yang dituangkan dalam kitab-kitab fikih tersebut. Rekonstruksi dimulai dari pembongkaran terhadap akar permasalahan yang muncul dalam penafsiran itu. Setelah itu dilakukan reformulasi dengan melakukan pemahaman kembali terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi dengan pendekatan-pendepatan kontekstual, interdisipliner, dan komprehensif, sehingga diperoleh fikih baru yang benar-benar sejalan dengan prinsip-prinsip al-Quran yang menunjukkan adanya keadilan dan kesetaraan gender. Lanjut Baca »

Oleh: Marzuki

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permasalahan tentang bagaimana bentuk pembelajaran hukum Islam yang berbasis pembelajaran moral di Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) Universitas Negeri Yogyakarta dan faktor apa saja yang memengaruhinya.

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang berupaya mendeskripsikan bentuk pembelajaran moral melalui mata kuliah Hukum Islam dan faktor-faktor yang memengaruhinya di Jurusan PKN FISE Universitas Negeri Yogyakarta. Data penelitian diperoleh melalui wawancara yang dibantu dengan angket. Data yang ditemukan kemudian dianalisis sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif dengan pendekatan induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran hukum Islam merupakan salah satu bentuk pembelajaran moral. Pembelajaran moral melalui mata kuliah Hukum Islam di Jurusan PKN FISE Universitas Negeri Yogyakarta dapat dikaji dari beberapa hal, seperti 1) materi perkuliahannya yang hampir semuanya bermuatan nilai-nilai moral; 2) strategi pembelajarannya yang sangat memerhatikan masalah moral baik ketika menggunakan metode ceramah maupun metode diskusi; dan 3) penilaiannya yang juga memerhatikan masalah moral yang didasarkan pada pengamatan dosen terhadap sikap dan perilaku mahasiswa mulai awal kuliah hingga selesainya proses pembelajaran di akhir semester. Pembelajaran moral melalui mata kuliah Hukum Islam di Jurusan PKN FISE UNY tidak bisa berjalan dengan mulus, tetapi memiliki hambatan yang cukup berarti. Di antara faktor yang memengaruhi sekaligus menghambat proses pembelajaran moral tersebut antara lain adalah: 1) kemampuan dasar yang dimiliki oleh para mahasiswa cukup heterogen sehingga menghambat kelancaran proses pembelajarannya; 2) kurangnya perhatian mahasiswa terhadap masalah moral; dan 3) sulitnya melakukan pembelajaran moral.

Kata kunci: Pembelajaran moral, Hukum Islam, dan Jurusan PKN. Lanjut Baca »

Marzuki

(PKn&H–FISE–UNY Karangmalang Yogyakarta,

E-mail: marzukiwafi@yahoo.co.id, HP.0818462597)

Abstract

This research aims to reveal a problem about PAI learning in UNY and its role to build character culture among the students. This is a qualitative descriptive research. The data is obtained through interviews, questionnaires, and documentations and analyzed using qualitative analysis techniques with the inductive approach. The results showed that PAI learning has an important role to build character culture of the students, if supported by competent lecturers, good input, adequate materials, and good processes. Conversely, if the support is not met, this goal will be difficult to materialize. Among the problems are diverse student abilities, student attention to the character is less, PAI learning materials were emphasized to cognitive aspects, and it is difficult to control students outside lectures.

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap satu masalah tentang pembelajaran PAI di UNY dan perannya dalam pembentukan akhlak mulia di kalangan mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, angket, dan dekumentasi lalu dianalisis dengan teknik analisis kualitatif dengan pendekatan induktif. Hasilnya adalah bahwa pembelajaran PAI memiliki peran yang penting dalam pembentukan akhlak mulia di kalangan mahasiswa, jika didukung oleh para dosen yang berkompeten, input yang baik, materi ajar yang memadai, dan proses perkuliahan yang baik. Sebaliknya, jika dukungan itu tidak ada, tujuan yang diinginkan akan sulut terealisasi. Di antara problem yang muncul adalah kemampuan mahasiswa yang beragam, perhatian mahasiswa terhadap akhlak mulia masih kurang, materi pembelajaran PAI masih menekankan pada aspek kognitif, dan masih sulitnya melakukan kontrol terhadap mahasiswa di luar kuliah.

Kata kunci: Pembentukan kultur, akhlak mulia, pembelajaran PAI, dan mahasiswa UNY. Lanjut Baca »

Oleh: Dr. Marzuki (FISE-UNY)

Abstrak

Fungsi kehadiran manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah Allah dan sebagai hamba Allah. Untuk melaksanakan kedua fungsi ini manusia harus membekali dirinya secara cukup, terutama bekal ilmu. Dengan bekal inilah manusia dapat memerankan dirinya dalam rangka membangun hubungan dengan Tuhannya (Khaliq) maupun dengan sesamanya (makhluq). Cara yang bisa ditempuh adalah melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhkan diri dari seluruh larangan-Nya. Inilah konsep takwa dalam Islam yang dijabarkan dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yakni aqidah, syariah, dan akhlak. Ketiga kerangka ajaran ini merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Aqidah menjadi fondasi yang menjadi tumpuan berdirinya bangunan syariah dalam mencapai tujuan akhir akhlak. Karena itu, penerapan akhlak mulia dalam berhubungan antar sesama manusia tidak bisa dilepaskan dari kerangka aqidah dan syariah. Ketika orang melakukan hubunga dengan sesamanya, baik dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya, maupun dengan masyarakatnya tetap harus didasari oleh aqidah dan syariah yang benar, sehingga tercapai akhlak mulia yang sebenarnya. Lanjut Baca »

Marzuki, M.Ag.

Abstrak

Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran kedudukan perempuan pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin. Sedang masalah yang kedua adalah sejauhmana keterlibatan perempuan dalam bidang politik pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin serta problem apa saja yang dihadapi perempuan pada waktu itu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mencari jawaban atas kedua masalah tersebut.

Penelitian ini merupakan penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang didasarkan pada kajian kepustakaan (library research). Data penelitian yang berisi informasi-informasi tentang keterlibatan perempuan dalam bidang politik pada masa Nabi Muhammad Saw. dan masa Khulafaur Rasyidin diperoleh dari literatur Islam yang berupa hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. dan buku-buku sejarah Islam atau buku-buku politik Islam yang mengungkap permasalahan tersebut. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan teknik analisis induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi perempuan di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah sebelum kedatangan Islam secara umum suram. Perempuan dihina, diperlakukan secara kasar, dan direndahkan martabatnya, bahkan perempuan dipandang sebagai perwujudan dosa, kesialan, aib, dan hal-hal lain yang memalukan. Pada masa ini perempuan tidak memiliki hak politik sama sekali. Islam datang membawa angin segar bagi kaum perempuan. Islam menempatkan kedudukan perempuan pada proporsinya dengan mengakui kemanusiaan perempuan dan mengikis habis kegelapan yang dialami perempuan sepanjang sejarah serta menjamin hak-hak perempuan. Pada masa Nabi Muhammad Saw. kaum perempuan sudah memainkan peran-peran politis dalam rangka menegakkan kalimat-kalimat Allah, seperti melakukan dakwah Islam, ikut berhijrah bersama Nabi, berbai’at kepada Nabi Saw., dan melakukan jihad atau ikut serta dalam peperangan bersama-sama kaum laki-laki. Kaum perempuan juga aktif memainkan peran-peran politis pada masa Khulafaur Rasyidin. Ummahat al-Mu’minin menjadi motor penggerak kaum perempuan pada waktu itu untuk aktif dalam peran-peran politik tersebut. Di antara problem yang dihadapi perempuan dalam melakukan peran-peran politis pada masa Nabi adalah tekanan kaum kafir Quraisy Makkah di awal dakwah Islam, kelemahan fisik mengingat begitu beratnya aktivitas yang dilakukan untuk berhijrah dan berjihad misalnya, serta kehilangan keluarga dan harta serta kampung halaman. Namun demikian, problem-problem seperti ini tidak menghalangi peran-peran perempuan di dunia politik. Problem besar yang dihadapi pada masa Khulafaur Rasyidin adalah bahwa yang saling bertikai pada saat kekacauan adalah sesama Muslim dan juga ulah kaum munafik, seperti yang dimotori Abdullah bin Saba’. Lanjut Baca »

Oleh: Marzuki

(FISE – UNY)

 

Abstrak

Meneladani Nabi Muhammad Saw. adalah salah satu cara untuk berakhlak kepadanya. Semua ini merupakan konsekuensi logis dari iman akan adanya Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasulullah. Beriman kepada Rasulullah adalah meyakini dan memercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt. memilih di antara manusia untuk dijadikan rasul-Nya untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada umat manusia.

Meneladani Nabi Muhammad Saw. dalam kehidupan sehari-hari harus dimulai dengan mengetahui apa saja sifat-sifat yang dimilikinya dan bagaimana perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Alquran dan Sunnah/Hadits, sebagai dua sumber utama ajaran Islam, memberikan informasi yang lengkap tentang semua sifat dan perilaku Nabi Muhammad Saw. Dengan menjadikan kedua sumber ajaran ini sebagai landasan utama dalam sikap dan perilaku kita, berarti kita benar-benar telah meneladani Nabi Muhammad Saw. dalam kehidupan kita sehari-hari. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.